Sumber: Freepik
Industri manufaktur Indonesia mengawali November 2025 dengan kinerja yang memuaskan. Laporan terbaru S&P Global menunjukkan bahwa Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia naik menjadi 51,2 pada Oktober 2025, meningkat dari 50,4 pada bulan sebelumnya. Kenaikan ini menandai ekspansi selama tiga bulan berturut-turut, memperlihatkan bahwa aktivitas industri terus pulih di tengah kondisi ekonomi global yang masih bergejolak.
Angka PMI di atas 50 menunjukkan adanya ekspansi aktivitas manufaktur. Artinya, pelaku industri mulai melihat pemulihan permintaan, peningkatan kapasitas produksi, dan optimisme terhadap prospek ekonomi dalam beberapa bulan ke depan. Momentum ini menjadi sinyal kuat bahwa sektor manufaktur sedang memasuki fase konsolidasi dan siap menjadi motor pertumbuhan ekonomi nasional.
Apa Makna Kenaikan PMI untuk Ekonomi Indonesia?
PMI merupakan indikator awal (leading indicator) yang mencerminkan arah pergerakan ekonomi. Kenaikan PMI menunjukkan bahwa sektor manufaktur yang menjadi tulang punggung ekonomi nasional sedang di jalur pemulihan yang solid. Bagi perekonomian, tren ekspansi ini memiliki beberapa makna penting:
Dengan demikian, kenaikan PMI bukan sekadar data statistik, melainkan indikasi nyata bahwa ekonomi Indonesia sedang bergerak menuju pemulihan yang lebih berkualitas dan berkelanjutan.
Pesanan Baru Meningkat, Aktivitas Produksi Menguat
Kenaikan PMI didorong oleh peningkatan pesanan baru, terutama dari pasar domestik. Kemudian, stabilnya konsumsi masyarakat serta pulihnya kebutuhan dari sektor-sektor turunan membuat produsen meningkatkan aktivitas produksinya.
Meskipun terdapat tantangan di mana permintaan ekspor masih menurun akibat perlambatan ekonomi global, pelaku industri tetap mencatat adanya pertumbuhan pesanan. Kondisi ini mendorong perusahaan untuk menjaga ritme operasional, memperbaiki rantai pasok, dan mengoptimalkan kapasitas produksi. Peningkatan ini juga mencerminkan kekuatan pasar dalam negeri yang kini menjadi tumpuan utama ekspansi industri di tengah melemahnya permintaan luar negeri.
Tenaga Kerja Bertambah, Optimisme Semakin Nyata
Salah satu indikator penting dalam laporan PMI adalah peningkatan tenaga kerja. Data menunjukkan bahwa perusahaan mulai merekrut karyawan baru untuk mengimbangi kenaikan permintaan dan beban produksi.
Langkah ini menjadi sinyal positif bahwa pelaku industri memiliki kepercayaan terhadap stabilitas pasar. Dalam konteks pemulihan ekonomi, peningkatan rekrutmen mencerminkan bahwa ekspansi kali ini bersifat struktural, bukan sekadar rebound jangka pendek. Selain menekan angka pengangguran, peningkatan tenaga kerja juga berpotensi memperkuat daya beli masyarakat, yang pada gilirannya akan mendorong konsumsi dan pertumbuhan ekonomi lebih lanjut.
Tekanan Biaya Produksi Masih Jadi Tantangan
Di tengah optimisme tersebut, industri manufaktur tetap menghadapi tantangan dari sisi biaya input. Laporan menunjukkan bahwa harga bahan baku mengalami kenaikan tercepat dalam delapan bulan terakhir, terutama disebabkan oleh ketidakpastian rantai pasok global dan fluktuasi harga energi.
Kondisi ini memaksa sebagian pelaku industri untuk menyesuaikan strategi efisiensi, seperti optimalisasi sumber daya lokal, digitalisasi proses produksi, dan penerapan teknologi hemat energi. Pemerintah pun diharapkan memperkuat kebijakan stabilisasi harga bahan baku, mempercepat hilirisasi, serta menjaga ketersediaan energi industri agar biaya produksi tidak menggerus margin keuntungan.
Sementara itu, permintaan ekspor masih menghadapi tekanan, terutama dari negara tujuan utama di kawasan Asia Timur dan Eropa. Perlambatan global membuat kontribusi ekspor terhadap PMI belum signifikan.
Namun, pasar domestik kini menjadi tumpuan utama pertumbuhan. Dengan konsumsi rumah tangga yang tetap stabil dan kebijakan pemerintah yang mendukung industri lokal, sektor manufaktur Indonesia berhasil mempertahankan momentum ekspansi di tengah tekanan global. Hal ini menunjukkan bahwa ketahanan ekonomi nasional semakin kuat, dengan pasar dalam negeri yang berfungsi sebagai bantalan utama terhadap guncangan eksternal.
Dengan strategi yang tepat, Indonesia berpotensi memperkuat posisinya sebagai pusat manufaktur unggulan di Asia Tenggara, sekaligus menjadikan sektor industri sebagai motor utama pemulihan ekonomi nasional menjelang 2026.
Bergabunglah dengan kami dalam Manufacturing Surabaya 2026: Biggest Manufacturing Expo in Eastern Indonesia. Kunjungi website kami di https://www.manufacturingsurabaya.com/ untuk informasi terkini seputar industri manufaktur. Ikuti akun media sosial Instagram kami @manufacturing.surabaya untuk mengetahui informasi seputar pameran dan ikuti akun media sosial TikTok kami @manufacturing.series untuk mengetahui informasi unik terkait industri manufaktur.
Referensi
Copyright © 2021 Pamerindo Indonesia PT | Privacy Policy