Sumber: magnific.com
Industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki tumbuh 11,30% secara tahunan pada kuartal II 2026. Pertumbuhan tersebut meningkat dibandingkan kuartal I 2026 yang berada di angka 5,28%. Kinerja tersebut juga berada di atas pertumbuhan industri pengolahan nonmigas sebesar 5,32% dan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,29%. Data tersebut menunjukkan perkembangan industri alas kaki Indonesia di tengah kondisi perdagangan global yang masih menghadapi berbagai tekanan.
Informasi mengenai pertumbuhan tersebut disampaikan dalam laporan bisnis.com mengenai industri alas kaki yang tumbuh 11,3% pada kuartal II 2026. Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) menilai pertumbuhan tersebut menunjukkan masih adanya aktivitas produksi, permintaan pasar, investasi, serta penyerapan tenaga kerja di sektor alas kaki nasional.
Pertumbuhan 11,30% pada kuartal II 2026 menjadi salah satu fakta penting dalam perkembangan industri alas kaki Indonesia. Secara kumulatif, kelompok industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki mencatat pertumbuhan sebesar 8,25% sepanjang semester I 2026.
Pertumbuhan tersebut juga lebih tinggi dibandingkan beberapa indikator ekonomi pada periode yang sama. Industri pengolahan nonmigas tumbuh 5,32%, sedangkan ekonomi nasional tumbuh 5,29%. Secara kuartalan, kelompok industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki masih mencatat pertumbuhan positif sebesar 2,72%. Perbedaan tersebut memperlihatkan bahwa sektor alas kaki menjadi salah satu bagian dari industri manufaktur yang mencatat pertumbuhan cukup tinggi pada periode tersebut.
Industri alas kaki memiliki karakter sebagai industri padat karya. Pertumbuhan produksi turut berkaitan dengan kebutuhan tenaga kerja dalam proses manufaktur.
Pada Februari 2026, kelompok industri kulit dan alas kaki menyerap sekitar 966.147 tenaga kerja. Jumlah tersebut meningkat sebanyak 45.061 orang atau sekitar 4,9% dibandingkan Februari 2025. Dari jumlah tersebut, sekitar 845.511 orang atau 87,5% merupakan pekerja formal, sedangkan 120.636 orang merupakan pekerja informal. Kontribusi kelompok industri tersebut mencapai sekitar 4,82% terhadap total tenaga kerja industri pengolahan nonmigas. Data ini menunjukkan bahwa industri alas kaki memiliki keterkaitan dengan penyerapan tenaga kerja sekaligus aktivitas ekonomi di wilayah industri.
Pasar ekspor menjadi salah satu bagian penting dalam perkembangan industri alas kaki Indonesia. Berdasarkan data yang dikutip Bisnis.com, nilai ekspor alas kaki Indonesia pada 2025 mencapai sekitar US$7,98 miliar.
Nilai tersebut meningkat 9,54% dibandingkan 2024 dengan volume ekspor sekitar 601 juta pasang. Data tersebut menunjukkan bahwa produk alas kaki Indonesia memiliki pasar internasional yang cukup besar. Kinerja ekspor tersebut juga berlanjut pada awal 2026. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik yang dikutip dalam laporan tersebut, alas kaki menjadi salah satu komoditas utama ekspor Indonesia ke Amerika Serikat. Pada periode Januari hingga Maret 2026, komoditas alas kaki mencatat surplus perdagangan nonmigas sekitar US$1,49 miliar.
Investasi menjadi salah satu indikator lain dalam perkembangan industri alas kaki Indonesia. Pada 2025, realisasi investasi kelompok industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki mencapai sekitar Rp25,83 triliun.
Nilai tersebut meningkat hampir 70% dibandingkan 2024 yang berada di angka Rp15,20 triliun. Sementara itu, pada kuartal I 2026, realisasi investasi kelompok industri tersebut telah mencapai sekitar Rp5,83 triliun. Investasi tersebut berkaitan dengan pengembangan kapasitas produksi, modernisasi mesin, serta pembangunan fasilitas industri. Perkembangan tersebut menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan dalam melihat kondisi industri alas kaki nasional.
Pasar dalam negeri juga menjadi bagian dari pertumbuhan industri alas kaki. Konsumsi rumah tangga untuk kelompok sandang, termasuk pakaian dan alas kaki, mencapai sekitar Rp103,72 triliun pada kuartal II 2026.
Konsumsi tersebut tumbuh 3,52% secara tahunan dan meningkat 4,74% secara kumulatif sepanjang semester I 2026. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa permintaan domestik masih menjadi salah satu faktor yang mendukung aktivitas industri selain pasar ekspor. Permintaan domestik menjadi penting karena industri alas kaki tidak hanya bergantung pada pasar internasional. Perubahan konsumsi masyarakat juga dapat memengaruhi kebutuhan produksi dan distribusi produk alas kaki di dalam negeri.
Pertumbuhan tinggi tidak berarti industri alas kaki bebas dari tantangan. Pelaku industri masih perlu memperkuat sejumlah aspek agar pertumbuhan dapat dipertahankan.
Aprisindo menyoroti beberapa hal yang perlu diperhatikan, seperti akses pasar ekspor, ketersediaan bahan baku, efisiensi logistik dan energi, produktivitas tenaga kerja, modernisasi mesin, akses pembiayaan, serta pengawasan terhadap produk impor ilegal dan sepatu tiruan. Kebutuhan untuk meningkatkan daya saing juga berkaitan dengan kondisi pasar global. Industri alas kaki Indonesia perlu mempertahankan kualitas produk, produktivitas, kecepatan pengiriman, dan kemampuan memenuhi standar internasional.
Perkembangan pasar Eropa juga menjadi salah satu perhatian industri. Aprisindo menyebut Eropa sebagai pasar utama kedua bagi industri alas kaki Indonesia dan melihat implementasi IEU-CEPA sebagai salah satu peluang untuk memperluas akses pasar. Namun, peningkatan ekspor tetap bergantung pada kemampuan industri memenuhi persyaratan asal barang, standar teknis, keberlanjutan, kualitas, harga, kapasitas, dan waktu pengiriman.
Industri alas kaki menjadi salah satu subsektor manufaktur yang memiliki keterkaitan dengan ekspor, investasi, tenaga kerja, dan konsumsi domestik.
Data pertumbuhan 11,30% pada kuartal II 2026 memberikan gambaran mengenai kinerja sektor tersebut pada periode tersebut. Namun, perkembangan industri tetap perlu dilihat bersama dengan indikator lain seperti investasi, ekspor, penyerapan tenaga kerja, serta kondisi pasar global. Data Kementerian Perindustrian melalui BPIPI juga mencatat tersedianya data historis mengenai pertumbuhan industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki, investasi, serta ekspor hingga 2025. Data tersebut dapat digunakan untuk melihat perkembangan sektor dalam periode yang lebih panjang.
Perkembangan industri alas kaki Indonesia pada 2026 menunjukkan adanya pertumbuhan produksi, peningkatan investasi, serta kontribusi terhadap ekspor dan tenaga kerja. Pertumbuhan 11,30% pada kuartal II menjadi salah satu indikator penting dalam melihat kondisi industri pada tahun tersebut.
Aprisindo juga memiliki target untuk meningkatkan nilai ekspor alas kaki Indonesia. Pada Januari 2026, asosiasi tersebut menyampaikan target ekspor mencapai US$10 miliar dalam tiga tahun ke depan dengan dukungan perluasan pasar, termasuk peluang pasar Uni Eropa melalui IEU-CEPA. Realisasi target tersebut akan bergantung pada berbagai faktor, termasuk kondisi perdagangan internasional, kebijakan tarif, akses pasar, kapasitas produksi, efisiensi industri, dan kemampuan perusahaan Indonesia memenuhi kebutuhan buyer global.
Perkembangan industri alas kaki Indonesia menjadi bagian penting dari dinamika manufaktur Indonesia. Penguatan produktivitas, efisiensi, akses pasar, modernisasi mesin, dan kesiapan tenaga kerja menjadi beberapa aspek yang perlu diperhatikan agar industri alas kaki dapat mempertahankan kinerjanya di tengah perubahan pasar global.
Jadilah bagian dari Manufacturing Surabaya 2027: The Biggest Manufacturing Expo in Eastern Indonesia. Dapatkan informasi terbaru seputar perkembangan industri manufaktur melalui website resmi Manufacturing Surabaya. Ikuti juga Instagram @manufacturing.surabaya serta TikTok @manufacturing.series untuk insight menarik dan update terkini dari dunia manufaktur