Sumber: magnific.com
Studi yang dipublikasikan dalam Journal of Manufacturing Technology Management pada 2021 mengkaji penerapan Hoshin Kanri di lima perusahaan manufaktur kecil, dengan fokus pada faktor-faktor yang memengaruhi implementasinya. Temuan tersebut dibahas dalam artikel akademik Implementing Hoshin Kanri in small manufacturing companies, yang menempatkan Hoshin Kanri sebagai pendekatan manajemen strategis yang perlu disesuaikan dengan kondisi organisasi dan proses operasionalnya.
Bagi industri manufaktur, tantangan manajemen tidak hanya terletak pada penetapan target produksi, tetapi juga pada bagaimana target tersebut diterjemahkan menjadi tindakan yang konsisten di setiap bagian perusahaan. Sasaran peningkatan kualitas, pengurangan biaya, ketepatan pengiriman, dan produktivitas membutuhkan koordinasi antara manajemen, departemen produksi, quality control, maintenance, hingga supply chain.
Hoshin Kanri menawarkan pendekatan untuk menghubungkan prioritas strategis perusahaan dengan pekerjaan sehari-hari. Strategi ini membantu organisasi menentukan sasaran utama, menyelaraskan tanggung jawab antar bagian, serta mengevaluasi perkembangan melalui siklus perencanaan dan perbaikan berkelanjutan.
Hoshin Kanri merupakan metode pengelolaan strategi yang membantu perusahaan menerjemahkan visi dan tujuan jangka panjang menjadi sasaran tahunan, rencana tindakan, serta aktivitas operasional yang terukur. Pendekatan ini juga dikenal sebagai strategy deployment atau policy deployment.
Menurut Lean Enterprise Institute, Hoshin Kanri menghubungkan tujuan strategis secara vertikal dan horizontal, mulai dari pimpinan perusahaan hingga pekerja di lini operasional. Prosesnya tidak berhenti pada pembagian target, tetapi turut melibatkan komunikasi, pengembangan kemampuan pemecahan masalah, dan evaluasi hasil.
Dalam lingkungan manufaktur, pendekatan tersebut dapat diterapkan untuk menjembatani target bisnis dengan indikator operasional. Sebagai contoh, perusahaan yang ingin meningkatkan daya saing tidak cukup hanya menetapkan target peningkatan produktivitas. Manajemen juga perlu menentukan perubahan proses yang dibutuhkan, sumber daya yang tersedia, indikator keberhasilan, dan pihak yang bertanggung jawab.
Hoshin Kanri membantu menyatukan berbagai kebutuhan tersebut ke dalam arah kerja yang lebih terkoordinasi.
Lean manufacturing berfokus pada penciptaan nilai bagi pelanggan melalui pengurangan pemborosan dan peningkatan proses. Hoshin Kanri melengkapi pendekatan tersebut dengan membantu perusahaan menentukan prioritas perbaikan yang paling relevan terhadap tujuan strategisnya.
Hubungan ini penting karena perusahaan manufaktur dapat menjalankan banyak program peningkatan secara bersamaan. Tanpa prioritas yang jelas, sumber daya berisiko tersebar ke berbagai proyek yang tidak selalu memberikan kontribusi signifikan terhadap sasaran bisnis.
Artikel Jeffrey Liker dan John Shook yang diterbitkan oleh Lean Enterprise Institute pada 2025 menjelaskan bahwa Hoshin Kanri perlu dipahami sebagai proses manajemen yang menggabungkan penyelarasan organisasi, pemecahan masalah, dan pembelajaran berkelanjutan. Pendekatan ini bukan sekadar penggunaan formulir perencanaan atau penurunan KPI dari manajemen ke staf.
Dalam penerapannya, hubungan Hoshin Kanri dan lean manufacturing dapat terlihat melalui beberapa hal berikut:
Hoshin Kanri tidak menggantikan lean manufacturing. Metode ini membantu memastikan bahwa aktivitas lean memiliki arah dan prioritas yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan.
Penerapan Hoshin Kanri membutuhkan proses yang sistematis agar tujuan strategis dapat diterjemahkan menjadi tindakan yang realistis. Berikut tahapan yang dapat digunakan sebagai kerangka penerapan di perusahaan manufaktur.
Langkah awal adalah menetapkan sasaran utama perusahaan berdasarkan kondisi bisnis, kebutuhan pelanggan, kemampuan produksi, dan tantangan operasional.
Contohnya, perusahaan menetapkan peningkatan kualitas produk sebagai salah satu prioritas strategis. Sasaran tersebut kemudian perlu didukung oleh analisis terhadap tingkat cacat produk, penyebab ketidaksesuaian, kemampuan proses, dan efektivitas sistem pengendalian kualitas.
Penetapan prioritas membantu perusahaan membedakan antara aktivitas rutin dan inisiatif strategis yang membutuhkan perubahan lebih mendasar.
Sasaran strategis perlu dihubungkan dengan indikator kinerja yang dapat dipantau. Dalam manufaktur, indikator tersebut dapat mencakup tingkat cacat produk, produktivitas, waktu henti mesin, biaya produksi, dan ketepatan pengiriman.
Sebagai ilustrasi, target peningkatan kualitas dapat diterjemahkan menjadi penurunan tingkat produk cacat dalam periode tertentu. Tim produksi kemudian bekerja bersama quality control untuk menentukan penyebab utama masalah dan menyusun tindakan perbaikan.
KPI sebaiknya tidak hanya menunjukkan hasil akhir. Indikator proses juga dibutuhkan untuk membantu tim memahami apakah tindakan yang dilakukan benar-benar mendorong pencapaian sasaran.
Salah satu konsep penting dalam Hoshin Kanri adalah catchball, yaitu proses pertukaran gagasan antara manajemen dan tim pelaksana dalam menyusun sasaran serta rencana tindakan.
Melalui proses ini, manajemen menyampaikan prioritas perusahaan, sementara tim operasional memberikan masukan mengenai kelayakan target, kebutuhan sumber daya, kendala proses, dan waktu pelaksanaan.
Pendekatan tersebut membantu perusahaan menghindari penetapan target yang hanya berdasarkan arahan dari atas tanpa mempertimbangkan kondisi aktual. Pembahasan mengenai strategy deployment dan proses catchball oleh Lean Enterprise Institute menjelaskan pentingnya dialog antara pimpinan dan tim untuk menyelaraskan sasaran dengan sumber daya yang tersedia.
Dalam praktik manufaktur, catchball dapat melibatkan kepala produksi, quality control, maintenance, pengadaan, dan logistik. Koordinasi ini penting karena perubahan pada satu bagian dapat memengaruhi kinerja bagian lainnya.
Hoshin Kanri berkaitan erat dengan siklus PDCA (Plan, Do, Check, Act). Siklus ini membantu perusahaan merencanakan tindakan, menjalankannya, memeriksa hasil, dan menentukan penyesuaian berdasarkan evaluasi.
Dalam konteks manufaktur, penerapannya dapat berupa perencanaan pengurangan waktu henti mesin, pengujian perubahan jadwal preventive maintenance, pemantauan hasil, serta penyempurnaan prosedur berdasarkan temuan di lapangan.
Evaluasi tidak hanya dilakukan pada akhir tahun. Pemantauan berkala membantu perusahaan mendeteksi penyimpangan lebih awal dan menyesuaikan tindakan ketika asumsi awal tidak sesuai dengan kondisi produksi.
Evaluasi Hoshin Kanri perlu menghubungkan pencapaian KPI dengan tindakan yang telah dilakukan. Ketika target tidak tercapai, perusahaan perlu menelusuri penyebabnya sebelum memutuskan tindakan korektif.
Pendekatan ini mendorong organisasi untuk belajar dari hasil aktual, bukan sekadar menilai keberhasilan berdasarkan pencapaian angka. Temuan evaluasi juga dapat digunakan untuk menyempurnakan sasaran, alokasi sumber daya, dan rencana perbaikan pada periode selanjutnya.
Bayangkan sebuah perusahaan manufaktur komponen otomotif menghadapi tingginya tingkat produk cacat dan meningkatnya biaya pengerjaan ulang. Manajemen menetapkan peningkatan kualitas sebagai prioritas strategis, kemudian menghubungkannya dengan target operasional yang menjadi tanggung jawab beberapa departemen.
Sebagai ilustrasi, perusahaan dapat menyusun rencana seperti berikut.
Tingkat perencanaan | Contoh penerapan |
Sasaran strategis | Meningkatkan kualitas produk dan mengurangi biaya akibat cacat |
Target tahunan | Menurunkan tingkat produk cacat dari 4% menjadi 2,5% |
Target produksi | Mengurangi kesalahan proses pada tahapan yang paling sering menghasilkan cacat |
Program quality control | Memperkuat analisis akar masalah dan pemeriksaan proses |
Program maintenance | Mengevaluasi kondisi mesin yang berkontribusi terhadap ketidaksesuaian produk |
Evaluasi | Memantau tingkat cacat, penyebab masalah, dan efektivitas tindakan korektif |
Angka pada contoh tersebut merupakan ilustrasi, bukan hasil penelitian atau klaim kinerja perusahaan tertentu.
Melalui Hoshin Kanri, setiap departemen memiliki kontribusi yang lebih jelas terhadap sasaran yang sama. Tim quality control tidak hanya mengejar hasil inspeksi, sementara tim maintenance tidak hanya berfokus pada ketersediaan mesin. Keduanya berkolaborasi untuk mengatasi penyebab masalah yang berdampak terhadap kualitas produk.
Keberhasilan penerapan tetap bergantung pada kualitas analisis, dukungan pimpinan, keterlibatan tim, dan konsistensi evaluasi. Hoshin Kanri menyediakan kerangka penyelarasan, bukan jaminan bahwa target akan tercapai secara otomatis.
Penerapan Hoshin Kanri membantu perusahaan manufaktur menerjemahkan strategi bisnis menjadi sasaran operasional yang lebih terarah dan terukur. Dengan menyelaraskan target, memantau kinerja, dan mengevaluasi hasil secara berkala, perusahaan dapat mengoptimalkan penggunaan sumber daya serta mendorong perbaikan berkelanjutan. Berikut beberapa manfaat Hoshin Kanri dalam mendukung efisiensi dan kinerja manufaktur:
Hoshin Kanri membantu setiap bagian perusahaan memahami hubungan antara aktivitas mereka dan sasaran organisasi. Penyelarasan ini dapat mengurangi risiko ketika setiap departemen mengejar indikator masing-masing tanpa memperhatikan dampaknya terhadap keseluruhan proses bisnis.
Perusahaan dapat menentukan inisiatif yang perlu mendapatkan perhatian dan sumber daya lebih besar. Program perbaikan yang tidak berhubungan langsung dengan prioritas strategis dapat dievaluasi kembali agar kapasitas organisasi digunakan secara lebih terarah.
Pemantauan KPI dan evaluasi proses memberikan dasar untuk menilai perkembangan sasaran. Ketika hasil tidak sesuai rencana, perusahaan dapat melakukan analisis akar masalah dan menyesuaikan tindakan berdasarkan bukti operasional.
Peningkatan kualitas, produktivitas, dan ketepatan pengiriman sering kali membutuhkan kontribusi lebih dari satu departemen. Hoshin Kanri membantu menyatukan tanggung jawab tersebut melalui sasaran bersama dan komunikasi yang terstruktur.
Siklus evaluasi dan pembelajaran membantu perusahaan mempertahankan perbaikan sekaligus menyesuaikan strategi terhadap perubahan kondisi. Prinsip ini sejalan dengan pendekatan lean yang menempatkan perbaikan proses sebagai bagian dari sistem manajemen, bukan sekadar proyek sementara.
Penerapan awal dapat dilakukan melalui langkah-langkah berikut:
Pendekatan bertahap membantu perusahaan mempelajari cara kerja Hoshin Kanri berdasarkan kondisi nyata. Skala dan kompleksitas penerapannya dapat disesuaikan dengan ukuran organisasi, kesiapan proses, serta kemampuan sumber daya yang tersedia.
Penerapan Hoshin Kanri tidak cukup berhenti pada penyusunan target atau penggunaan matriks strategi. Perusahaan perlu membangun komunikasi dua arah, memperkuat kemampuan pemecahan masalah, dan memastikan bahwa setiap inisiatif memiliki hubungan yang jelas dengan prioritas bisnis.
Melalui pendekatan yang terukur dan konsisten, Hoshin Kanri dapat menjadi bagian dari sistem manajemen manufaktur yang membantu perusahaan menentukan prioritas, mengoordinasikan sumber daya, serta mengembangkan budaya continuous improvement secara berkelanjutan.
Ingin mengeksplorasi perkembangan teknologi dan peluang bisnis di industri manufaktur? Jadilah bagian dari Manufacturing Surabaya 2027: The Biggest Manufacturing Expo in Eastern Indonesia. Temukan informasi terbaru seputar inovasi, teknologi, dan perkembangan industri manufaktur melalui website resmi Manufacturing Surabaya. Ikuti juga Instagram @manufacturing.surabaya serta TikTok @manufacturing.series untuk mendapatkan insight menarik dan update terkini dari dunia manufaktur.