Sumber: magnific.com
Sejumlah pabrik tekstil di Indonesia mulai mengadopsi kecerdasan buatan (AI), bahkan beberapa perusahaan telah memiliki peta jalan pemanfaatan teknologi hingga 2030. Penggunaan robotik juga mulai diterapkan dalam proses produksi, termasuk pengemasan. Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa AI dan otomatisasi mulai menjadi bagian dari transformasi industri tekstil Indonesia.
Informasi tersebut disampaikan oleh Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI) melalui laporan Bisnis.com mengenai masuknya AI ke industri tekstil. Perubahan teknologi tersebut tidak hanya berkaitan dengan penggunaan mesin, tetapi juga mengubah kebutuhan kompetensi tenaga kerja di sektor tekstil.
Perkembangan AI dan otomatisasi mulai mengubah proses kerja di industri tekstil. Teknologi dapat digunakan untuk membantu berbagai aktivitas produksi, sementara robotik mulai diterapkan pada proses tertentu seperti pengemasan.
Penerapan otomatisasi dan AI tidak serta-merta menghilangkan seluruh kebutuhan tenaga kerja. Perubahan teknologi justru dapat menggeser kebutuhan industri menuju tenaga kerja dengan keterampilan yang lebih maju. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa transformasi digital industri tekstil tidak hanya berkaitan dengan pengurangan pekerjaan manual. Perusahaan juga membutuhkan sumber daya manusia yang mampu memahami, mengoperasikan, dan beradaptasi dengan teknologi baru.
Penggunaan AI membuat kebutuhan keterampilan di industri tekstil ikut berubah. Tenaga kerja tidak hanya dituntut memahami proses produksi, tetapi juga perlu memiliki kemampuan untuk berinteraksi dengan mesin dan sistem digital.
Kemampuan beradaptasi terhadap perkembangan teknologi menjadi salah satu hal penting bagi pekerja di sektor tekstil. Perubahan tersebut dapat menciptakan kebutuhan terhadap pekerjaan dengan kualifikasi keterampilan yang lebih tinggi. Perubahan kebutuhan kompetensi menjadi semakin relevan bagi lulusan perguruan tinggi. Pengetahuan akademik perlu dilengkapi dengan kemampuan memahami teknologi yang digunakan dalam lingkungan industri.
Otomatisasi menjadi salah satu bentuk penerapan teknologi yang berkembang di industri tekstil. Beberapa perusahaan telah menggunakan robotik untuk mendukung proses produksi, salah satunya pada tahap pengemasan.
Penggunaan robot dapat membantu menjalankan pekerjaan yang bersifat berulang. Sistem otomatis juga dapat membantu perusahaan meningkatkan konsistensi proses dan mengurangi ketergantungan pada pekerjaan manual tertentu.
Penerapan teknologi tersebut tidak berarti seluruh proses produksi harus dilakukan secara otomatis. Perusahaan tetap membutuhkan tenaga manusia untuk mengawasi sistem, melakukan pengambilan keputusan, menangani kondisi tertentu, dan menjalankan pekerjaan yang membutuhkan keterampilan khusus.
Beberapa perusahaan tekstil di Indonesia telah memiliki roadmap pemanfaatan teknologi hingga 2030. Peta jalan tersebut menunjukkan bahwa penggunaan AI dan otomatisasi dipandang sebagai proses transformasi yang membutuhkan perencanaan jangka panjang.
Penerapan AI dalam jangka panjang membutuhkan kesiapan infrastruktur, perangkat, data, sumber daya manusia, serta sistem produksi. Perusahaan perlu menentukan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan operasional sebelum melakukan implementasi dalam skala yang lebih besar.
Pengembangan sumber daya manusia menjadi salah satu tantangan dalam proses adaptasi AI. Efektivitas transfer teknologi dari dunia usaha ke institusi pendidikan perlu diperkuat, terutama dalam pengoperasian mesin dengan teknologi tinggi.
Keterhubungan antara industri dan pendidikan dapat membantu menyesuaikan kompetensi lulusan dengan kebutuhan dunia kerja. Materi pembelajaran dapat dikembangkan berdasarkan teknologi yang benar-benar digunakan di lingkungan industri. Pengembangan produk dalam skala laboratorium juga dapat menjadi salah satu pendekatan untuk memperkenalkan teknologi sebelum diterapkan dalam skala industri. Hubungan antara institusi pendidikan dan perusahaan dapat membantu memperkecil kesenjangan antara teori dan praktik.
Transfer teknologi juga berkaitan dengan perkembangan industri mesin tekstil di dalam negeri. Industri mesin tekstil domestik masih perlu dikembangkan agar mampu menyalurkan pengetahuan teknologi secara lebih menyeluruh kepada institusi pendidikan.
Kondisi tersebut menjadi bagian dari tantangan dalam membangun ekosistem teknologi tekstil nasional. Pengembangan industri mesin dapat mendukung proses penguasaan teknologi sekaligus memperkuat kemampuan sumber daya manusia. APSyFI mendorong adanya roadmap pengembangan industri permesinan nasional agar Indonesia dapat meningkatkan kemampuan dalam mengadopsi teknologi dari luar negeri.
Penerapan teknologi digital dan AI berkaitan dengan upaya meningkatkan produktivitas industri tekstil. Teknologi dapat membantu perusahaan mengolah informasi, mengotomatisasi proses tertentu, dan meningkatkan kemampuan merespons perubahan kebutuhan pasar.
Penelitian Institut Pertanian Bogor (IPB) pada 377 industri tekstil dan produk tekstil menemukan bahwa penggunaan rutin teknologi canggih pada proses produksi memiliki pengaruh signifikan terhadap peningkatan produktivitas. Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa tingkat adopsi teknologi pada industri TPT Indonesia masih berada pada tingkat menengah untuk sejumlah fungsi bisnis dan produksi. Temuan tersebut memberikan gambaran bahwa pengembangan teknologi tidak hanya berkaitan dengan kepemilikan mesin atau perangkat digital. Pemanfaatan teknologi secara rutin dalam proses produksi juga menjadi bagian penting dari transformasi industri.
Perubahan teknologi membuat kemampuan adaptasi menjadi salah satu kompetensi yang dibutuhkan tenaga kerja. Perusahaan membutuhkan pekerja yang mampu mempelajari sistem baru dan memahami cara teknologi digunakan dalam proses produksi.
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi juga mendorong perguruan tinggi untuk beradaptasi terhadap perkembangan AI melalui penguatan kompetensi dosen, penyesuaian kurikulum, dan pemanfaatan AI dalam penelitian. Hubungan antara pendidikan dan industri menjadi penting karena perkembangan teknologi berlangsung lebih cepat dibandingkan perubahan kurikulum. Kolaborasi dapat membantu institusi pendidikan memahami kompetensi yang dibutuhkan perusahaan.
Perkembangan AI membawa perubahan pada proses produksi industri tekstil di Indonesia. Sejumlah perusahaan mulai menerapkan AI, otomatisasi, dan robotik, sementara perusahaan lainnya masih berada pada tahap pengembangan dan perencanaan teknologi. Adaptasi ini juga didukung oleh penyusunan roadmap teknologi hingga 2030 yang menjadi bagian dari upaya transformasi industri tekstil. Perkembangan tersebut tidak hanya memengaruhi proses produksi, tetapi juga mendorong perubahan kebutuhan kompetensi tenaga kerja.
Penggunaan AI tidak hanya berkaitan dengan otomatisasi pekerjaan, tetapi juga meningkatkan kebutuhan terhadap tenaga kerja yang memiliki keterampilan lebih maju. Kemampuan memahami teknologi, mengoperasikan sistem digital, serta beradaptasi dengan perubahan menjadi kompetensi penting bagi sumber daya manusia di industri tekstil. Oleh karena itu, pendidikan tinggi dan pendidikan vokasi berperan dalam mempersiapkan lulusan yang sesuai dengan kebutuhan industri.
Kolaborasi antara industri, pemerintah, perguruan tinggi, dan lembaga pendidikan vokasi diperlukan untuk mendukung transformasi tersebut. Selain meningkatkan kompetensi tenaga kerja, pengembangan industri mesin tekstil dalam negeri dan transfer pengetahuan serta teknologi juga menjadi aspek penting. Sinergi ini diharapkan dapat memperkuat ekosistem industri tekstil Indonesia agar mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan industri hingga masa mendatang.
Ingin eksplor teknologi manufaktur terbaru? Jadilah bagian dari Manufacturing Surabaya 2027: The Biggest Manufacturing Expo in Eastern Indonesia. Dapatkan informasi terbaru seputar perkembangan industri manufaktur melalui website resmi Manufacturing Surabaya. Ikuti juga Instagram @manufacturing.surabaya serta TikTok @manufacturing.series untuk insight menarik dan update terkini dari dunia manufaktur